Minggu, 13 Februari 2011

Buah Mangga Sebagai Khas Kota Indramayu

Mangga Indramayu

Mangga yang satu ini memang khas Indramayu, didaerahnya mangga ini dikenal sebagai mangga Cengkir (pelem cengkir) berukuran besar dan memiliki serat buah yang khas. Rasanya manis dan kering, tidak seperti mangga lain yang agak basah, mungkin karena daerah Indramayu yang kering sehingga mangga ini terasa gurih.
cengkirMangga khas ini paling enak adalah yang matang dipohon, sangat terasa ke-khasannya, selain itu mangga ini cukup tahan lama dari pembusukan.
Selain mangga cengkir, buah khas Indramayu lainnya adalah mangga gedong atau sering disebut juga mangga gincu karena warna kulitnya yang berwarna-warni. Ukuran mangga ini kecil seukuran kepalan tangan.
Untuk menikmati buah ini, pilihlah musim kemarau untuk menikmatinya, karena buah tidak banyak mengandung air, sehingga rasanya lebih nikmat dibandingkan saat musim penghujan.

Tempat Wisata Di Indramayu

Mmmm...Indramayu...
Indramayu adalah kota kelahiranku...
Tempatku dibesarkan dan bermain-main dengan teman-teman kecilku...
Walupun sekarang aku sudah pindah ke bogor,tapi rasa rinduku pada kampung halamanku indramayu tidak akan pernah hilang dari pikiranku.
Indramayu adalah kota yang sangat indah..terutama dengan pantainya..
Aku paling suka saat bermain di pantai indramayu. Pantai yang masih bersih dan tidak ada kotoran sedikitpun di pinggiran pasirnya yang putih.

Wisata dan Budaya Indramayu

Indramayu memiliki potensi wisata yang lengkap, baik wisata Alam, wisata Ilmu Pengetahuan dan teknologi ( IPTEK ), wisata Agro dan Wisata Rohani.

Selain itu Indramayu kaya akan potensi seni dan budaya yang beragam serta trdisi lama yang amish hidup dan berkembang dimasyarakat seperti Upacara adat Ngarot dan Nadran.

Sintren
Sintren atau Lais merupakan salah satu kesenian rakyat yang masih tetap hidup dan berkembang dimasyarakat pesisir, terutama Pantai Utara. Selain nuansa magis, kurungan ayam, menjadi daya tarik dari kesenian Sintren. Juga alat musik yang khas berupa buyung, kendi dan bumbung atau batang bambu.

Tari topeng

sta_ind02topeng.jpgGerak tari yang khas, kostum yang berciri Topeng spesifik, membedakan tari Topeng Dermayon dibandingkan dengan daerah lain. Indramayu memiliki seorang maestro tari Topeng yaitu Ibu Rasinah (74 tahun) yang sudah banyak tampil di mancanegara.

Tarling
wisata1_img3.jpgTarling merupakan seni musik dan lagu yang pada awalnya ditampilkan dalam bentuk nyanyian (kiser) yang diiringi oleh gitar dan suling saja.

Sejalan dengan perkembangan zaman, kesenian tarling mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat. Saat ini tarling sudah dilengkapi dengan alat-alat musik yang modern. Kendatipun demikian Tarling klasik masih banyak diminati oleh wisatawan.

Genjring akrobat
wisata1_img4.jpgSalah satu jenis kesenian tradisional masyarakat Indramayu adalah merupakan pertunjukan berupa akrobat/atraksi dengan media tangga, sepeda beroda satu dan sebagainya.
Kesenian Genjring Akrobat dalam penyajiannya diiringi alat musik Genjring/Rebana dengan dilengkapi tari Rudat.

Wisata Kota
Monumen Kijang berdiri tegar dipersimpangan jalur jalan masuk ke kota Indramayu dari arah Cirebon, merupakan gambaran sejarah dari Kijang Emas yang menuntun dan menunjukan arah letak Pedukuhan di Muara Kali Cimanuk yang menjadi cikal bakal Kabupaten lndramayu.
Pusat kota atau dikenal Alun-alun, sekaligus sebagai pusat pemerintahan daerah merupakan centre point Kota Indramayu.

alun2.jpg

Pada sore hari terutama malam minggu kawasan ini menjadi ramai dikunjungi terutama oleh kawula muda. Pusat kota Indramayu dilintasi oleh sungai Cimanuk yang kini telah berubah menjadi taman kota.

Bekas sungai Cimanuk ini merupakan salah satu bukti sejarah pada awal masa pembangunan pedukuhan dimuara sungai Cimanuk oleh Raden Aria Wiralodra yang kini bernama Indramayu.

Indramayu merupakan Kota Pesisir dijalur Pantai utara yang merniliki posisi strategis yang sekaligus menjadi tempat transit, sehingga kota Indramayu menjadi persinggahan atau tempat tujuan wisata.

Untuk itu Kota lndramayu memiliki Hotel dan tempat peristirahatan yang cukup representatif untuk dikunjungi dan dinikmati yang dilengkapi pula dengan tempat hiburan yang berciri khas daerah Indramayu atau modern.

Cindera mata

Batik Tulis Paomanimagesbatik.jpg
indra1batik.jpgBatik yang berciri khas pesisir, memiliki corak yang berbeda dengan batik daerah lainnya. Perpaduan antara kepercayaan, adat istiadat, seni dan lingkungan kehidupan daerah pesisir, ditambah lagi adanya pengaruh dari luar, seperti Cina, Arab dan Timur Tengah, Hindu-Jawa serta Eropa ikut mempengaruhi terbentuknya motif dan karakter batik tulis pesisir.

Industri kerajinan batik tulis ini terdapat di Kelurahan Paoman, Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu dan Desa Terusan Kecamatan Sindang. Kualitas dari batik yang mem punyai ±200 motif ini telah mampu menembus pasaran internasional, terutama para kolektor batik dari mancanegara.

Kerajinan Bordir

Kerajinan bordir berkembang cukup pesat di Indramayu, terletak di Desa Sukawera, Kecamatan Widasari ±22 Km dari Kota Indramayu. Hasil produksinya mampu memenuhi permintaan pasar regional dan Nasional.

So, Indramayu merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikunjungi bukan? Apalagi letaknya yang sangat strategis, disepanjang jalan pantura. Sembari anda menikmati perjalanan ke Jawa atau Jakarta, anda bisa mampir sejenak untuk menikmati kota Indramayu nan Asri.

Ngunjung

"Kebudayaan adalah benang merah yang menghubungkan dimensi ruang,
waktu, manusia, serta kreativitasnya yang berlangsung tanpa henti.
Ruang-ruang kebudayaan sebagai hasil ketajaman budi dan fikir
masyarakat membentuk suatu kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan,
baik nilai-nilai dalam tradisi, perekonomian, pertanian, pendidikan,
sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sejarah, maupun lingkungan.

Seni pertunjukan di Indonesia, dalam perjalanannya, merupakan sebuah
ungkapan hati para kreatornya yang disublimasikan dari pengalaman-
pengalaman indrawi keseharian mereka, seperti mata pencaharian
(pertanian), gejala alam, dsb. Dapat dipahami apabila kesenian yang
wajar hanya dapat dihasilkan oleh kelompok masyarakat yang secara
sosial budaya dan ekonomi telah sejahtera. Hal ini telah dicontohkan
leluhur kita yang dapat kita lihat dari helaran seni tradisi
pertanian, diantaranya tradisi "Ngunjung".

Ngunjung Sirung secara etimologi bermakna "menyambut dengan hormat
tunas baru". Perayaan "ngunjung" merupakan sebuah tradisi penanaman
padi yang pertama. Upacara ini berasal dari Indramayu, Majalengka,
dan Cirebon. Tradisi "Ngunjung" biasa dilaksanakan pada bulan
September (musim tanam) dan dimeriahkan dengan berbagai kesenian
khas daerah-daerah tersebut. Sedangkan kata "sirung" kami maknai
sebagai generasi-generasi pewaris budaya. Dengan demikian, "Ngunjung
Sirung" adalah sebuah upaya revilatiliasai budaya, yaitu
revitalisasi tradisi "ngunjung" untuk proses regenerasi. Melalui
seni "Ngunjung Sirung", para "sirung" atau generasi muda Sunda mulai
dikenalkan kepada budayanya, yaitu budaya Sunda.

Seiring dengan derasnya arus globalisasi yang semakin sukar diredam,
budaya lokal dengan segala kearifannya mulai tersisihkan. Sunda,
yang sedikitnya menyimpan tiga ratus jenis kreativitas budaya dalam
bentuk kesenian saat ini juga terimbas oleh arus budaya global itu.
Revitalisasi tradisi seperti "Ngunjung Sirung" diharapkan mampu
meredam serbuan budaya global terhadap budaya lokal. "Ngunjung
Sirung" juga kiranya dapat berkontribusi pada upaya-upaya
pengembangan, pembinaan, dan pemakaian seni dan sastra sebagai
khasanah budaya daerah seperti amanat Perda No. 5 Tahun 2003 tentang
Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah. "Ngunjung Sirung"
yang akan dipentaskan di "Celah-celah Langit" (CCL) diharapkan
menjadi salah satu sarana pemuliaan khasanah budaya Sunda.

CCL berlokasi di Jl. Setiabudi (50 meter dari terminal Ledeng),
Bandung, seluas 200 m2, adalah sebuah ruang publik yang
representatif untuk menyampaikan pesan-pesan melalui kesenian.
Karena di CCL, penonton disituasikan seperti sebuah keluarga yang
tidak mengenal hirarki sosial. Berbagai pagelaran seni telah
dilaksanakan di CCL dengan sukses. CCL menyediakan wahana untuk
menyuguhi masyarakat dengan tontonan yang mendidik sekaligus
menghibur. CCL dapat menjadi sebuah model landscape untuk
menghidupkan kantong-kantong budaya di daerah guna menumbuh-
kembangkan kesenian secara khusus, dan kebudayaan pada umumnya.

Intelektual dan pemerhati budaya Sunda yang tergabung dalam sebuah
Event Organizer bernama Sundalana bekerja sama dengan koperasi
Amanah Sarakan mengajak Anda semua berpartisipasi dalam pemuliaan
budaya lokal. Donasi Anda semua yang dikontribusikan guna mendukung
pertunjukkan "Ngunjung Sirung" merupakan bentuk dukungan pada
pemuliaan kearifan lokal".

Sejarah Indramayu

Sejarah Indramayu

Sejarah putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bengelen Jawa Tengah bernama Raden Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran, dalam tapa baratanya di kaki Gunung Sumbing mendapat wangsit.
“Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana”. Demikianlah bunyi wangsit itu.
R. Wiralodra ditemani Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana. Tokoh-tokoh lain dengan pendiri pedukuhan dimaksud adalah Nyi Endang Darma yang cantik dan sakti, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat putra oleh Putri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati. Ki Buyut Sidum / Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Pajajaran, Pangeran Guru, seorang pangeran dari Palembang yang mengajarkan Kanuragan dengan 24 muridnya.
Pedukuhan tersebut berkembang dan diberi nama “Darma Ayu” oleh R. Wiralodra yang diambil dari nama seorang wanita yang dikagumi karena kecantikan dan tkesaktiannya “Nyi Endang Darma”, serta dapat diartikan “Kewajiaban Yang Utama” atau “Tugas Suci”.
Pedukuhan Cimanuk yang diberi nama “Darma Ayu” yang kemudian berubah menjadi “Indramayu”, setelah terbebas dari kekuasaan Pajajaran pada tahun 1527, diproklamirkan berdirinya oleh R. Wiralodra pada hari Jum’at Kliwon tanggal 1 Muharram 934H atau 1 Sura 1449 dan jatuh pada tanggal 7 Oktober 1527. Titimangsa tersebut resmi sebagai Hari Jadi Indramayu.
Setelah 1527, Daerah Indramayu terbagi dalam tiga propinsi meliputi :
Propinsi Singapura, meliputi sebelah timur sampai Sungai Kamal.
Propinsi Rajagaluh, meliputi daerah tengah sampai Jati tujuh.
Propinsi Sumedang, meliputi bagian barat sampai Kandanghaur.
Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni.
Zaman pemerintahan Daenles (1806 – 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada masa ini berada dalam kekuasaan kerajaan Demak. Tahun 1546 menjadi bagian kesultanan Cirebon.
Tahun 1615 sebelah timur Sungai Cimanuk menjadi bagian keultanan Cirebon dan bagian baratnya ermasuk dalam wilayah kerajaan Mataram.
Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni. Zaman pemerintahan Daenles (1806 – 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada zaman kompeni menjadi ajang masuk pertempuran segitiga antara kompeni, Mataran dan Banten. Tahun 1706, Indramayu jatuh kedalam kekuasaan kompeni Belanda seluruhnya seperti halnya dengan daerah-daerah lain, Indramayu mempunyai perjalanan yang sama berada dalam kekuasaan penjajahan.(*)

Batik Indramayu

1. motif kembang gunda (work in process) pada sehelai kain sifon

2.tumpukan batikku, work in process, batik tulis halus complongan.

3.proses pewarnaan at workshop “senang hati batik” ku.

4. Batikku dijemur at “workshop senang hati batik” paoman, indramayu

Mapag Tamba

RITUAL "MAPAG TAMBA" INDRAMAYU MASIH LESTARI

Indramayu, 8/2(ANTARA) -Petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat masih setia menggelar upacara ritual "Mapag Tamba" yang merupakan warisan budaya leluhur sejak ratusan tahun lalu.

Upacara "Mapag Tamba" yang dimaksudkan sebagai ritual untuk meminta keberkahan dalam usaha pertanian mereka juga memohon keselamatan atas kehidupan warga dan penghormatan atas leluhur itu berlangsung semarak di Desa Cikedung Lor , Kecamatan Cikedung, Indramayu Barat sepanjang Jumat (5/1) lalu.

Sekertaris desa Cikedung Lor kepada wartawan di Indramayu, Senin, mengatakan,upacara ritual itu merupakan rasa syukur dan memohon doa supaya hasil panen padi petani di desanya berhasil, acara ritual tersebut sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.

Dia menambahkan, setiap tahun kami wajib menggelar ritual "Mapag Tamba" dengan tujuan agar desanya terhindar dari bencana seperti banjir yang sering melanda lahan pertanian, kegiatan tersebut berlangsung cukup meriah semua masyarakat ikut serta dengan menampilkan budaya lokal.

Sementara itu Ahyani mantan Kepala Desa Cikedung, acara puncak ritual itu adalah mengarak air yang dibawa dari sumber mata air terdekat untuk keliling desa.

Rastinah seorang warga desa setempat mengaku acara tersebut berjalan cukup meriah dan selalu ditunggu petani setempat.

"Harapan kami semoga ritual itu terus dilangsungkan karena kegiatan tersebut merupakan budaya leluhur masyarakat petani Indramayu, jangan sampai terhenti karena perubahan jaman yang semakin maju," katanya.

Sedekah Bumi

Masyarakat jawa memang terkenal dengan beragam jenis tradisi budaya yang di ada di dalamnya. Baik tradisi cultural yang bersifat harian, bulanan hingga yang bersifat tahunan, semuanya ada dalam tradisi budaya jawa tanpa terkecuali. Dari beragam macamnya tradisi yang ada di masyarakat jawa, hingga sangat sulit untuk mendeteksi serta menjelaskan secara rinci terkait dengan jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat jawa tersebut. Salah satu tradisi masyarakat jawa yang hingga sampai sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa pada setiap tahunnya adalah sedekah bumi.
Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak famil mereka dari mengais rizqi dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.
Bagi masyarakat jawa khususnya para kaum petani dan para nelayan, tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka. Akan tetapi tradisi sedakah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian yang sudan menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari kultur (budaya) jawa yang menyiratkan simbol penjagaan terhadap kelestarian serta kearifan lokal (Local Wisdem) khas bagi masyarakat agraris maupun masyarakat nelayan khususnya yang ada di pulau jawa.
Pada acara upacara tradisi sedekah bumi tersebut umumnya, tidak banyak peristiwa dan kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Hanya saja, pada waktu acara tersebut biasanya seluruh masyarakat sekitar yang merayakannya tradisi sedekah bumi membuat tumpeng dan berkumpul menjadi satu di tempat sesepuh kampung, di bakai desa atau tempat-tempat yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat untuk menggelar acara ritual sedekah bumi tersebut. Setelah itu, kemudian masyarakat membawa tumpeng tersebut ke balai desa atau tempat setempat untuk di do’akan oleh tetua adat. usai di do’akan oleh sesepuh atau tetua adat, kemudian kembali diserahkan kepada masyarakat setempat yang membuatnya sendiri. Nasi tumpeng yang sudah di do’akan oleh sesepuh kampung atau tetua adat setempat kemudian di makan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang membawa nasi tumpeng tersebut yang membawanya pulang untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing. Pembuatan nasi tumpeng ini merupakan salah satu syarat yang harus dilaksanakan pada saat upacara tradisi tradisional itu.
Menurut adat istiadat dalam tradisi budaya ini, di antara makanan yang menjadi makanan pokok yang harus ada dalam tradisi ritual sedekah bumi adalah nasi tumpeng dan ayam panggang. Sedangkan yang lainnya seperti minuman, buah-buahan dan lauk-pauk hanya bersifat tambahan saja, tidak menjadi perioritas yang utama. Dan pada acara akhir, nantinya para petani biasanya menyisakan nasi, kepala dan ceker ayam, ketiganya dibungkus dan diletakkan di sudut-sudut petak sawahnya masing-masing.
Bentuk Rasa Syukur
Dalam puncaknya acara ritual sedekah bumi di akhiri dengan melantunkan do’a bersama-sama oleh masyarakat setempat dengan dipimpin oleh tetua adat. Do’a dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh tetua adat atau sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut. Ada yang sangat menarik dalam lantunan do’a yang ada dilanjutkan dalam ritual tersebut. Yang menarik dalam lantunan doa tersebut adalah kolaborasi antara lantunan kalimat-kalimat Jawa (Jawa Dermayu) dan yang dipadukan dengan khazanah-khazanah doa yang bernuansa Islami.
Ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. Manurut cerita dari para nenek moyang orang jawa terdahulu, "Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar. Dan ritual sedekah bumi inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol yang paling dominan bagi masyarakat jawa khususnya para petani dan para nelayan untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia". Sehingga dengan begitu maka tanah yang dipijak tidak akan pernah marah seperti tanah longsor dan banjir dan bisa bersahabat bersandingan dengan masyarakat yang menempatinya.
Selain itu, Sedekah bumi dalam tradisi masyarakat jawa juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan YME atas nimat dan berkah yang telah diberikan-Nya. Sehingga seluruh masyarakat jawa bisa menikmatinya. Sedekah bumi pada umumnya dilakukan sesaat setelah masyarakat yang mayoritas masyarakat agraris habis menuai panen raya. Sebab tradisi sedekah bumi hanya berlaku bagi mereka yang kebanyakan masyarakat agraris dan dalam memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam. Meskipun tidak menuntut kemungkinan banyak juga dari masyarakat nelayan yang juga merayakannya sebagai bentuk rasa syukurnya kepada tuhan, yang menurut para nelayan disebut dengan sedekah laut. Itu sebagai bentuk rasa sukur masyarakat nelayan kepada tuhan sebab mereka bisa melaut dan mengais rizqi di dalamnya.
Namun sayangnya melihat realitas beberapa tahun terakhir ini, ritual sedekah bumi yang merupakan salah satu bentuk tradisi jawa yang sifatnya turun temurun, sedikit demi sedikit tanpa disadari sudah mulai memudar pamornya dan ditinggalkan oleh masyarakat jawa sendiri. Tradisi yang merupakan salah satu bentuk rasa penghargaan dan kasih sayang kepada tanah sudah tidak terlihat lagi. Dan makna sakral sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang terdapat dalam ritual dalam sedekah bumi juga mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Sehingga tidaklah mengherankan jika di muka bumi banyak terjadi bencana alam. Sebab manusia sudah mulai melupakan dan menghargai jerih payah dan pengorbanan besar tanah bagi kehidupan manusia. Dan yang lebih parah lagi manusia sudah tidak mau lagi memanjatkan piji syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan kenikmatan dan kesejahteraan bagi manusia di alam semesta.
Tanpa mengurangi makna esensial yang terkandung dalam ritual sedekah bumi tersebut, sebagai manusia yang telah ditugasi dan dipercayai oleh Tuhan di muka bumi sebagai kholifatul Fir Ardi sudah sepatutnya kita renungkan kembali akan segala sikap yang telah diperbuat pada eksistensi bumi. Sebagai Kholifah yang bertanggung jawab penuh di bumi maka kita harus kembali memperdulikan serta melestarikan keadaan yang ada di dalamnya. Jangan sampai kita hanya melakukan berbagai kerusakan dan kebobrokan tanpa memperdulikan akibat pada akhirnya. Dengan kita memperhatikan dan memperdulikan bumi tanpa merusaknya sedikit pun, niscaya alam juga akan kembali bersahabat dengan manusia.